Pohon yang lebat daunnya dan berbuah banyak secara ilmu biologi maupun secara awam dipastikan bertumbuh di pinggir aliran air, entah dalam bentuk kolam, danau, kali, sungai. Kecuali pohon jambu monyet dan beberapa pohon yang berani tumbuh di atas tanah yang nyaris tidak berair, secara rata-rata semua orang tahu bahwa kalau ada tumbuhan subur, di situ pasti ada air.

Sudah saya sebutkan sebelumnya, memang ada masalah juga karena tidak semua pohon yang subur juga otomatis berbuah lebat, karena ada unsur pembuahan yang terjadi pada pohon dimaksud, yaitu ada aspek di luar tanah yang mempengaruhi juga. Tetapi yang pokok ialah pohon itu subur.

Memang ada kemungkinan orang Papua menjadi kaya dan miskin itu bisa ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam kehidupan sosial, budaya, politik dan ekonomi, akan tetapi yang terutama ialah apakah kita berakar ke dalam dan hidup dengan air yang mengalir di sekitar kita atau tidak.

Kalau orang Papua mayoritas beragama Kristen, maka kita harus berakar ke dalam ajaran-ajaran agama kita dengan sepenuhnya, jangan asal-asalan beragama dan beriman. Kalau orang Papua bekerja di Kantor pemerintah atau mengajar di sekolah, kita harus melakukannya dengan sepenuh hati dan jiwa. Jangan setengah-setengah. Kalau kita mau jadi kaya, maka kita harus merombak sejumlah penghambat yang menggagalkan kita menjadi kaya.

Hambatan-hambatan itu sudah disebutkan sebelumnya seperti

  1. selalu tidak percaya diri
  2. selalu menyalahkan Indonesia dan Jawa kalau ada yang salah
  3. selalu mengeluh dengan “adooo..”
  4. selalu menyesali apa yang telah terjadi

Kalau orang Papua itu rasnya Melanesia, maka kita harus berakar ke dalam ajaran-ajaran budaya orang Melanesia. Jangan lupakan ritual-ritual adat, walaupun kita punya agama Kristen, Islam dan sebagainya, kita juga tidak boleh serta-merta melupakan apa yang dengan jerih-payah dan kerja-keras ditanam, dipelihara dan diwariskan oleh nenek-moyang kita.

Kalau tidak percaya, pergi saja ke seluruh dunia, dari timur ke barat, dari utara ke selatan. Semua orang miskin dan melarat pasti orang-orang tradisional, suku-suku yang sudah kehilangan adat dan budayanya.

Kita sebagai masyarakat adat sudah salah mengira bahwa menjadi orang Kristen berarti membenci dan memerangi adat dan budaya. Salah fatal.

Padahal para misionaris, para pembawa agama Kristen ataupun Islam dan agama-agama lain, mereka membawa agama mereka ke tempat-tempat kita sangat kental dengan warna-warni dan cita-rasa budaya di mana ajaran agama itu dirurunkan. Mengapa kita berusah menjadi seperti orang Yahudi, karena kita percaya agama Kristen lahir di tengah-tengah bangsa Israel? Mengapa kita menjadi ke Arab-Arab-an karena Islam lahir dalam budaya Arab?

Ini kesalahan fatal. Melupakan budaya sama saja dengan mencabut pohon tapna akar-akarnya, memindahkan satu pohon dari tempat di mana air mengalir, ke tempat baru yang belum dikenal pohon itu sendiri.

Di dalam adat dan budaya kita terdapat nilai-nilai orang Papua, ethos kerja yang asli, prinsip hdiup yang mengakar ke dalam Bumi kita berpijak.

Selain itu, kita juga harus berakar ke dalam prnsip-prinsip dan cara berpikir sebagai orang kaya. Kalau kita berpikir seperti orang miskin dan melarat,maka memang kita orang miskin dan melarat. Kalau kita orang kaya, atau kita mau menjadi orang kaya, maka kita haruslah berpikir sebagai orang kaya, bukan “seperti orang kaya”.

Dengan cara berpikir “sebagai” orang kaya, maka kita akan mewujudkan kekayaan itu dalam hidup kita.


 

Kita bicara tentang akar pohon, air, pohon yang lebat dan buah yang banyak. Ini semuaya tergantung kepada air ada air atau tidak. Air yang mengalir, danau atau kolam atau sumur yang mensuplai air sangat menentukan subur-tidaknya sebuah pohon.

Sudah disebutkan di atas, pertama, berakar dalam adat, budaya, dan ajaran-ajaran agama yang mengajarkan kita tentang berpikir dan bersikap terhadap apa-pun yang terjadi dalam hidup ini, dan apa yang kita mau terjadi dalam hidup kita.

Kita bicara tentang hidup kita, bukan hidup orang lain, hidup pribadi kita. Oleh karena itu, tanggungjawab sepenuhnya atas apa yang akan terjadi terhadap hidup kita satu demi satu ialah kita sendiri secara pribadi.

Kita menajdi kaya atau miskin ditentukan oleh pribadi kita sendiri.

Mari kita terus mengatakan kepada diri kita,

Ya, saya mau jadi kaya-raya di atas tanah leluhur saya, Tanah Papua! Semua unsur, pihak dan aspek kehidupan ini, mari dukunglah saya, mari kita bersama-sama menjadi kaya-raya di negeri leluhur Tanah papua.

Apapun yang terjadi, entah itu perasaan

katakan selalu, yakinkan selalu, ulangi selalu, jadikanlah menjadi nafas dan hafalan. Itulah air itu, itulah sungai itu, danau, kolam, yang mengalirkan air ke akar-akar kehidupan, yang akan menghasilkan pohon yang subur dan akan berbuah lebat, yaitu menjadi kaya-raya di negeri leluhur sendiri.

Itulah supply air itu sendiri!

Lalu ingat, semakin banyak supply airnya, semakin lebat pula pohonnya dan semakin banyak pula buahnya

Dan sebaliknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.